SJMJ Makassar – Home

Congregation of the Sisters

Visi, Misi & Identitas

Menjadi lembaga religius yang autentik, transformatif, partisipatif, inklusif, solider dan memancarkan harapan bagi sesama.

  1. Menghidupi kharisma dan spiritualitas Kongregasi Suster-Suster Jesus Maria Joseph secara autentik.
  2. Membangun komunitas religius yang transformatif, partisipatif, inklusif, dan solider, sebagai tanda kehadiran Kerajaan Allah
  3. Mengembangkan karya kerasulan yang inovatif dan relevan untuk menjawab kebutuhan zaman.
  4. Menghidupi solidaritas melalui kepedulian terhadap ciptaan, perjuangan bagi kesejahteraan sesama, serta penguatan kemandirian sumber daya sebagai wujud tanggung jawab bersama atas rahmat yang dipercayakan Tuhan.

IDENTITAS

TRILOGI SJMJ:  “Cinta – Sukacita – Pelayanan”

Sebagai Identitas yang kelihatan: Salib, Cincin & Busana Religius

Kalung SJMJ terdiri dari :

  1. Salib mengingatkan bahwa seorang suster SJMJ harus rela menderita bagi Yesus Sang Mempelai   (RMK hal. 84)
  2. Tali sepatu untuk menggantungkan salib melambangkan kegunaan dan kerelaan untuk diutus.
  3. Kalung SJMJ (terdiri dari Salib emas dan tali sepatu) melambangkan bahwa seorang suster SJMJ membawa cinta Tuhan yang sempurna melebihi emas, karenanya ia bersedia menderita dan memikulnya setiap hari dalam semangat kesederhanaan dan kesiapsediaan untuk diutus.
  4. Hati: Kristus memilih mati bagi kita, orang-orang berdosa, dan pilihan ini dibuat dalam kasih.  Allah menunjukkan Kasih -Nya yang besar kepada kita dengan mengutus Kristus untuk mati bagi kita ketika kita masih berdosa (Roma 5:8).
  5. Kerendahan Hati: Kematian Kristus merupakan tindakan kerendahan hati-Nya yang disengaja. Kristus tergantung pada kayu salib dengan suatu tujuan. Yesus menyatakan dirinya dalam ketaatan dan mati di kayu Salib (Filipi 2:7-8).
  6. Pengorbanan: Mengesampingkan Keilahian-Nya, Ia terlahir sebagai bayi yang tidak berdaya, sepenuhnya bergantung pada orang lain. Selama pelayanan-Nya dimuka umum, Dia dengan setia melaksanakan rencana Tuhan hingga kematian-Nya di kayu salib. (Roma 12:1–2).
  7. IHS (di satu sisi salib SJMJ)
    Christogram IHS (Iesus Hominum Salvator) adalah monogram yang melambangkan Yesus Kristus sebagai Juru Selamat. Pada tahun 1541 Santo Ignatius mengadopsi monogram IHS sebagai lambang untuk mewakili ordo barunya yang didirikan, Serikat Yesus. Pendiri Kongregasi SJMJ sebagai seorang Jesuit menggunakan monogram ini di satu sisi Salib untuk menunjukkan Yesus Kristus sebagai perwujudan kita semua.

Cincin dengan gambar Salib:

  1. Mengingatkan suster SJMJ akan janjinya untuk tetap setia.  Ia harus selalu memikirkan  bahwa sebagaimana cincin itu tidak ada ujungnya, demikian pula seharusnya cintanya kepada Yesus.
  2. Gambar salib pada cincin SJMJ melambangkan jalan transformasi. Ini mengingatkan kita pada jalan sempit yang harus selalu kita pilih. Artinya mati dan bangkit bersama Kristus. St. Paulus mengatakan: “Saya telah disalibkan bersama Kristus. Bukan lagi aku yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku.” Galatia 2:20
  3. Salib Yesus pada cincin menyatakan bahwa cinta lebih kuat daripada kebencian, kasih sayang menang atas penindasan, dan kerentanan mengalahkan kekuasaan. Salib mengajak kita untuk menaruh kepercayaan kita kepada Tuhan, bahkan ketika menghadapi kekecewaan, penindasan, kekejaman dan kematian. Tuhan beserta kita. Tuhan merasakan dan sangat menderita bersama kita. Kita memakai cincin bertanda salib sebagai tanda komitmen total kepada Tuhan, mengikuti jalan Kristus yang disalibkan dengan setia hingga akhir hayat.

Busana Religius:

  1. Kita memakai busana religius dan kerudung yang sederhana.
  2. Warna busana religius kita adalah putih dan abu-abu.
  3. Busana religius disesuaikan dengan budaya, iklim dan negara.

IDENTITAS

“Bukan maksud saya menjadikan kamu wanita-wanita Kristen yang sejati. Karena kalau demikian kamu boleh tinggal di rumah dan menghayati hidupmu sebagai orang Kristen yang baik. Tetapi yang saya inginkan ialah agar kamu menjadi seorang religious penuh dedikasi dan engkau wujudkan dalam panggilanmu.” (RMK hal. 59-60)

“Apa yang saya minta dari kamu ialah bahwa kamu harus taat dalam segala-galanya sehingga kamu siap berangkat ke tempat di mana ketaatan mengutus engkau” (RMK hal, 61).

Komunitas merupakan sumber kekuatan penting yang daripadanya kita dapat menimba kekuatan untuk melaksanakan karya kerasulan kita. Ketika kita diutus ke tengah dunia, kita memberikan dukungan persaudaraan satu sama lain agar karya pelayanan kita dikuatkan oleh doa dan cinta dari komunitas. (Konst. Art.32, bdk. RMK hal. 11)

error: Content is protected !!