SJMJ Makassar – Home

Congregation of the Sisters

Keuskupan Atambua

1. Komunitas Sta. Maria Nirmala - Kefamenanu

Alamat:
Jl. Ahmad Yani, RT/RW : 001/003
Kelurahan Kefamenanu Selatan
Kec. Kota Kefa Kab. Timur Tengah Utara
NTT – 85613

Karya Kerasulan:

  1. Poliklinik Sta. Maria Nirmala Kefamenanu
  2. Asrama Putera/i
  3. Pastoral

Susteran SJMJ St.Maria Nirmala Naesleu, didirikan pada 23 Juli 1993 tepatnya menanggapi tawaran dari Mgr. Anton Pain Ratu, SVD untuk mengelola karya kesehatan (BKIA).  Dalam perjalanan kerasulan para suster terus berkembang dengan baik dan membuahkan kasih dan sukacita dalam pelayanan. Selain berkarya di Poliklinik, para suster juga aktif dalam pendampingan bagi anak-anak asrama dan kegiatan pastoral seperti:

  1. Pelayanan komuni di gereja, orang sakit dan lansia.
  2. Dekorasi di Gereja (Penanggung jawab)
  3. Pendampingan kursus nikah
  4. Pendampingan pendalaman iman di lingkungan, sekolah (menjelang Pra – Paskah, bulan Kitab Suci dan Adventus).
  5. Mengikuti Perayaan Ekaristi dan Rosario di lingkungan
  6. Membantu/membiayai anak untuk sekolah
  7. Mengikuti pertemuan dan kegiatan di Keuskupan Atambua
  8. Mengikuti/ menghadiri rapat DPP/DKP di paroki.
  9. Mengikuti Rekoleksi se-Dekenat Kefamenanu menjelang Pra-Paskah dan Adventus dipimpin langsung oleh Bapak Uskup, dilanjutkan dengan kerja bakti bersama se-Dekenat Kefamenanu.
  10. Kegiatan Legio Maria dan Doa Kerahiman Ilahi

2. Komunitas Hati Kudus Yesus - Seon

Alamat:
RT/RW : 006/IV Dusun Seon
Desa Wemeda, Kec. Malaka Timur
Kab. Malaka – NTT 85761

Karya Kerasulan:

  1. TK Infant Jesus Seon
  2. Asrama Putera/i
  3. Pastoral

Cikal bakal kehadiran para suster JMJ di Paroki Seon tidak lepas dari kebutuhan Gereja. Para suster ini tidak pesimis meski setelah melihat keadaan nyata yang serba terbatas. Semangat mereka tetap berkobar mewartakan injil melalui keahlian dan potensi masing-masing. Para suster menanggapi kebutuhan gereja dengan mulai membuka pendidikan iman dan katekese umat kepada orang muda katolik. Sr. Auxilia menjadi penanggung jawab atas kerasulan ini. Sementara itu Sr. Wenseslas bertanggung jawab atas kursus kertampilan kepada kaum perempuan yang miskin dan Sr. Yuliana bertanggung jawab pada pelayan kesehatan. Perhatian yang diberikan melalui pelayanan kesehatan dilandasi oleh keprihatinan yang mendalam kepada kaum miskin dan sederhana sebagaimana yang telah diteladankan oleh Yesus dalam injil Lukas.

 

Pelayanan kesehatan ini diberikan setiap selesai misa. Pelayanan ini terus berjalan, seiring pergantian tenaga suster hingga tahun 1997 Poliklinik Seon ditutup karena berbagai faktor dan pertimbangan yang berpengaruh.

Sebagaimana Yesus berkeliling untuk berbuat baik dan mewartakan kerajaan Allah, demikianpun pelayanan Katekese kepada orang muda katolik (OMK) oleh Sr Auxilia Tandayu yang kala itu bekerjasama dengan Komisi Kepemudaan Keuskupan Ambon. Dilandasi oleh semangat Yesus, suster pun berkeliling ke semua Paroki yang ada untuk berkatekese dan juga mengadakan promosi panggilan. Usaha para suster saat itu tidak sia-sia, terbukti hingga saat ini para suster yang berasal dari Timor berjumlah sekitar 20 orang.

Selain pelayanan di bidang kesehatan dan pastoral, para suster juga mencoba untuk mewujudnyatakan semangat belas kasih Yesus (bdk Mat 15:32) dengan mengadakan pelayanan kepada kaum perempuan yang tidak melanjutkan pendidikan ke jenjang menengah (SMP-SMA) kerena faktor ekonomi yang kurang menunjang. Pelayanan yang diberikan dalam bentuk kursus keterampilam khusus yang dikenal dengan istilah Kursus Pemberdayaan Keterampilan Wanita (KPKW). Tujuannya yakni untuk mengangkat derajat kaum perempuan dan menambah keterampilan wanita sebagai salah satu persiapan memasuki hidup berkeluarga. Pembinaan dan keterampilan tidak hanya didapatkan oleh anak didik di kelas tetapi juga diasrama yang ditangani oleh suster yang bersangkutan. Selain kepada anak-anak dan remaja, para suster juga melatih kaum ibu untuk memasuk dan membuat kue (mengolah bahan lokal) untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan sebagai ibu rumah tangga. Demi efektifnya pelayanan, para suster bekerja sama dengan berbagai pihak untuk membentuk tim kerja yang solid, baik dengan pemerintah, Gereja dan masyarakat setempat.

Seiring perkembangan zaman dengan berbagai tawaran yang menggiurkan, gadis-gadis yang putus sekolah ini mulai juga terpengaruh dan mengikuti tawaran dari dunia luar. Inilah yang menjadi salah satu faktor penyebab kurangnya peminat sehingga tahun 1994 kursus ini ditutup. Setelah itu dengan mempelajari kebutuhan gereja dan menanggapi tuntutan zaman maka pada tahun 2004 karya ini berubah status menjadi SMP Terbuka. Sekolah ini merupakan pelayanan di bidang pendidikan namun menjadi karya sosial pula yang akhirnya berubah status lagi dengan istilah Program Paket A, B, C. Tim Pengajar sekolah ini terdiri dari Pastor, Suster dan umat. Karena kurangnya peminat, program ini pun ditutup pada tahun 2008.

Seiring dengan itu, Pendidikan kepada Anak Usia Dunia (PAUD) pun coba dimulai oleh Sr. Veronique Saroinsong dan Ibu Wendelina  Nahak – yang juga adalah anak didikan para suster  dan kini Karyawan Yayasan Joseph Yeemye. Pelayanan ini mendapat perhatian dan dukungan dari pihak pemerintah maka pada tahun 2008, disumbangkanlah sebuah gedung untuk operasional sekolah. Pada bulan Juni 2013 sudah mendapat Izin Operasional (IOP) secara resmi oleh pemerintah. PAUD dikelola dibawah naungan Yayasan Joseph Yeemye. Pelayanan ini berjalan baik dan sudah menamatkan beberapa angkatan dan mereka diterima dengan baik di tingkat Sekolah Dasar (SD).

3. Komunitas Maria Bunda Penolong - Atapupu

Alamat:
Jl. Motaain No. 2 Belu Timur
RT/RW : 008/004 – Desa Jenilu
Kec. Kakuluk Mesak, Kab. Belu Timor
NTT – 85752

Karya Kerasulan:

  1. Poliklinik Pratama Atapupu
  2. Pastoral

Kehadiran Kongregasi Suster JMJ di Keuskupan Atambua, Paroki Stella Maris Atapupu untuk menanggapi  undangan dari Mgr. Anton Pain Ratu, SVD Uskup Keuskupan Atambua, yang ditindaklanjuti melalui: Kesepakatan  Kerjasama antara Keuskupan Atambua dan Kongregasi Suster-suster Jesus Maria Joseph yang ditandatangani oleh Pihak Pertama Uskup Keuskupan Atambua Mgr. Anton Pain Ratu, SVD (uskup emeritus) dan Pihak Kedua Provinsial Kongregasi Suster-suster JMJ    Sr. Dominica Tupa, JMJ (Alm),  pada tanggal 1 Maret 1999.


Pada tahun 1998 setelah presiden Soeharto mengundurkan diri dan digantikan oleh B.J Habibie, suatu peristiwa yang menentukan terjadi, yaitu pada tanggal 27 Januari 1999, menteri Luar Negeri, Ali Alatas mengumumkan dan menawarkan 2 opsi otonomi atau merdeka, kepada masyarakat Timor-Timur.  Dan ternyata dari hasil jajak masyarakt yang memilih  “merdeka” yang menang. Maka pada tanggal 19 Oktober 1999, hasil referendum Timor-Timur (Timtim) disetujui melalui Sidang MPR, yaitu memutuskan bahwa Timtim bukan lagi wilayah Indonesia.

Komunitas Maria Bunda Penolong Atapupu hadir pertama kali pada bulan Mei 1998,   tujuannya untuk menangani karya Kesehatan, Pendidikan, Sosial dan Pastoral. Pelayanan kesehatan yang sebelumnya dilayani oleh suster-suster JMJ dari komunitas Seon, tidak optimal karena jaraknya yang  terlalu jauh. Maka dibentuklah Komunitas baru, dengan mengutus 2 suster yaitu Sr. Laurentiana Pondaag sebagai perawat  dan Sr. Theresiani Ngala sebagai guru.

 

Hal ini sangat mempengaruhi tugas pelayanan di Atapupu. Pelayanan kepada umat dan masyarakat dan di sekolah. Mau keluar saja merasa kurang aman. Karena Atapupu menjadi lautan manusia yang mengungsi untuk mencari perlindungan. Pastoran dan biara Atapupu menjadi tempat menampung pengungsi Frater-frater CMM yang berkarya di Timor Leste dan beberapa keluarga asal Manado yang bertugas di Timor-Timur, juga  penduduk asli Timor Timur. Juga para dokter yang dikoordinir oleh Perdhaki yang memberikan bantuan pelayanan kesehatan bagi para pengungsi Timor Leste.

Dari awal para suster mendidik anak-anak usia sekolah (SMP) yang berasal dari stasi Silawan dan Motain, yang terdiri dari anak-anak perempuan dan laki-laki yang berjumlah kurang lebih 20 orang untuk tinggal di asrama yang sangat sederhana dan mendapat pembinaan dari Sr. Theresiani Ngala sebagai penanggungjawab asrama. Asrama ini hanya bertahan kurang lebih 3 tahun 1997-1999. Asrama ini dibantu oleh sebuah keluarga dari Jakarta yaitu keluarga dr. Lukas dan dr. Iren.

Pelayanan karya kesehatan yang pada awal mulanya dilayani para suster dari Seon, terus-menerus diusahakan sehingga dapat melayani masyarakat dengan lebih baik.  Namun hal ini tidaklah mudah. Ada kalanya terasa ingin mau menyerah dan menutup poliklinik tersebut, tetapi mempertimbangkan himbauan dari bapak Uskup Atambua untuk tetap mempertahankan karya pelayanan kesehatan sehingga klinik ini masih terus beroperasi.

error: Content is protected !!